Abadikan Tokoh sebagai Nama Dukuh

SM/dok : ZIARAH KE MAKAM PEPUNDEN : Warga Desa Kerangkulon, Kecamatan Wonosalam berziarah di makam Mbah Ahmad Mudzakir atau Mbah Jati, salah satu cikal bakal pendiri desa tersebut, kemarin. (22)

Dukuh Jati, Desa Kerangkulon, Wonosalam, Demak.

Nama sebuah daerah tak jarang diambil dari nama tokoh atau orang yang memiliki jasa di daerah tersebut. Hal itu seperti Dukuh Jati yang penamannya berasal dari Ki Jati Sarono.

DUKUH Jati merupakan salah satu dukun di Desa Kerangkulon, Kecamatan Wonosalam, Demak yang memegang erat tradisi Jawa. Kepala Desa Kerangkulon Ahmad Saifudin Ridwan menjelaskan, desanya memiliki sejarah menarik karena terdapat tokoh-tokoh yang kealimannya cukup tersohor.Mereka adalah muridmurid Sunan Kalijaga.

Dia menuturkan, pada zaman kerajaan Demak, daerahnya masih berupa hutan belantara yang dikenal dengan nama hutan Gembringan. Di sana terdapat santri Sunan Kalijaga dan juga pejabat keraton Demak yang bertugas menjaga hutan tersebut.

”Beliau adalah Patih Danutirto yang memiliki kemampuan kanuragan dan wawasan keagamaan mendalam,” katanya didampingi pendamping desa, Amrin.

Suatu ketika, Patih Danutirto yang sedang berjalan di dalam hutan mendapati seorang veteran prajurit Majapahit, Ki Jatmiko. Pria paruh baya itu mengaku enggan kembali ke Majapahit karena tertarik dengan Islam yang dibawa Walisongo di Kerajaan Demak. Setelah berbincang cukup panjang dan menyakini kejujuran pada diri mantan prajurit Majapahit itu, maka Patih Danutirto kemudian memberikan tugas kepada Ki Jatmiko menjadi penjaga wilayah tersebut dan memberi nama baru, yakni Ki Jati Sarono.

Belajar Agama

Patih Danutirto lantas menyebut nama wilayah itu sebagai Dukuh Jati. ”Ini sebenarnya untuk memudahkan tanggung jawab penjagaan kewilayahan kepada Ki Jati Sarono, tetapi lambat laun justru menjadi nama daerah yang melekat hingga sekarang,” imbuhnya.

Kebaikan Patih Danutirto semakin menguatkan Ki Jati Sarono untuk memeluk agama Islam. Dia belajar agama kepada Patih Danutirto dan Kanjeng Sunan Kalijaga. Oleh Sunan Kalijaga namanya diganti menjadi Ahmad Mudzakir. ”Sampai saat ini dia termasuk pendiri Desa Kerang Kulon, tepatnya pepunden Dukuh Jati. Jadi meski namanya berubah jadi Mbah Ahmad Mudzakir, namun dukuhnya tetap dikenal dengan nama Jati,” terang Kades.

Keberadaan Ki Jati Sarono di tempat tersebut menjadikan lokasi itu kian tumbuh, sehingga menjali lokasi yang ramai. Banyak pengelana dan warga yang kemudian bermukim. Kades Kerangkulon menambahkan, sebagian besar warga desanya masih bekerja sebagai petani dengan tanaman dominan adalah padi. Sementara itu, Amrin menambahkan, terdapat tradisi warga Desa Kerangkulon yang hingga kini masih lestari adalah tradisi Apitan atau sedekah bumi. Dalam setiap perayaan tradisi itu digelar secara bergantian di tiap dukuh. ”Tahun ini warga menghendaki berlangsung di Dukuh Jati, di mana terdapat Mbah Ahmad Mudzakir atau Mbah Jati,” ungkap Amrin. (Hasan Hamid-22)

dikutip dari : https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/121004/abadikan-tokoh-sebagai-nama-dukuh

Facebook Comments