Ungkap Syukur, Warga Jati Adakan Apitan

Ringgit Purwo menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya luhur jawa (20/07/2018).

 

Kerangkulon.desa.id (20/07/2018).

Tradisi Apitan atau biasa disebut dengan nama lain Syukuran sedekah bumi menjadi sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini oleh pemerintah desa Kerangkulon. Apa pasal? Beberapa hal yang melatarbelakangi kenapa hal tersebut masih menjadi agenda rutinan desa antara lain adalah sebagai wujud syukur terhadap Allah SWT atas pemberian rejeki yang melimpah, rakyat aman dan tenteram dalam satu tahun ini. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ki Dalang Waroto.

“Apitan sebagai wujud Syukur terhadap Gusti ingkang maha dumadi, syukur terhadap Para leluhur yang telah mewariskan tanah yang subur, juga mendoakan mereka agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.” ungkap Dalang dari Kota Ukir ini.

Apitan atau Sedekah Bumi pada tahun ini difokuskan di Dukuh Jati. Dikarenakan telah menjadi kesepakatan bersama untuk dilaksanakan secara bergilir pada tiga dukuh di desa Kerangkulon Wonosalam Demak.

Menziarahi dan Berdoa bersama di Lokasi Makam Leluhur Dukuh Jati Mbah Abdul Mudzakir.

Dalam sambutannya Kepala Desa Kerangkulon menjelaskan bahwa Konon pada zaman dahulu dukuh Jati masih berupa hutan belantara dengan nama alas gembringan yang masuk dalam wilayah kerajaan Demak Bintoro. Tersebutlah Ada seorang pejabat kerajaan yang diberikan tugas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk menjaga hutan tersebut yang akhirnya beliau diangkat dan dikenal sebagai patih Danutirto.

Kala menjalankan tugasnya, patih danutirto terkaget kaget karena mendapati seorang yang mengaku sebagai veteran prajurit Majapahit yang enggan kembali ke Majapahit, beliau bernama Ki Jatmiko.

Warga antusias mendengarkan ulasan asal usul desa oleh kepala desa

Setelah berfikir dan bertawasul maka Patih Danutirto pun memberikan tugas kepada Ki Jatmiko sebagai penjaga wilayah tersebut dengan nama Ki Jati Sarono. Sehingga wilayah yang beliau pimpin terkenal dengan dukuh Jati. Seiring dengan berkembangnya Islam maka Ki Jati Sarono pun mengucapkan kalimat syahadat dan berganti nama menjadi Ahmad Mudzakir.

“Sehingga sampai saat ini leluhur dukuh jati dikenal bernama Mbah Ahmad Mudzakir, namun dukuhnya tetap Jati,” pungkas Pak Kades.

Warga dukuh Jati Tumpah ruah mengikuti acara Apitan di Halaman Modin Saroji.

Pasca sambutan dari Kepala Desa acara dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil dan Do’a oleh pemuka agama setempat. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Kerangkulon beserta perangkat desa, BPD, RT dan RW, Pendamping Lokal Desa serta warga dukuh jati.

Sementara pagelaran Wayang kulit berlangsung pada malam harinya yang ditayangkan semalam suntuk. Pagelaran wayang kulit sebagai bentuk melestarikan budaya jawa yang luhur serta sebagai bentuk wujud penghormatan kepada Kanjeng Sunan Kalijogo yang sukses menyebarkan Islam di Jawa dengan Wayang Kulit.

Narator : PanjiDk

Fotografer : Shofwanduri

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan